Alasan Bahasa Arab Sangat Penting Diajarkan Melalui Pendekatan Humanis dan Kontekstual

                 

Seringkali para pelajar meyakini Bahasa Arab adalah bahasa yang susah, berat, hanya menekan faktor hafalan. tentu doktrin dan ajaran di sekolah dan pesantren, pelajar selalu merasa keberatan dengan hal tersebut: kenapa sih ketika belajari Bahasa Arab rasanya itu kayak mendaki medan yang berat seprti gunung Himalaya? sementara itu, terlepas dari anggapan negatif tersebut, Bahasa Arab tentu merupakan bahasa yang mudah, dan elok penuh sastra, serta dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari kita sebagai muslim.

Namun,  yang masih sangat formalistik membuat banyak siswa kehilangan rasa cinta pada Bahasa Arab. Mereka hafal kaidah, tapi tidak memahami makna. kebanyakan dari kita  mengetahui tentang rumus i‘rab, namun kesulitan bicara hal yang simpel, contoh kecilnya adalah cara memegenalkan diri sendiri atau orang lain.  beranjka dari situ, maka muncullah sesuatu yang mendesak untuk ditanyakan kembali: apa benar kita sebagai Guru Bahasa Arab sudah mampu menyesuaikan diri untuk mengajar dengan karakter bahasa Arab?

                  Sekarang, mari saatnya kita mengubah paradigma tentang metode Bahasa Arab yang akan diajarkan ke anak didik dan para santri. Tidak dengan cara yang berat dan kaku, melainkan menggunakan  cara kreatif yang lebih humanis dan kontekstual.

                  Memang harus diakui, Bahasa Arab memiliki daya pikat unik dan utama dalam perjalan histori dan sivilisasi manusia. Bahasa Arab tidak hanya lagi sebagai bahasa komunikasi, namun juga bahasa wahyu, bahasa ilmu, dan bahasa peradaban Islam. Melalui Bahasa Arab, karya-karya besar muncul dalam tafsir, filsafat, kedokteran, astronomi, dan sastra yang membuat wajah dunia Islam maju dalam pandangan dunia.

                  Namun, pentingnya Bahasa Arab tidak hanya karena ia bahasa Al-Qur’an. Lebih dari itu, Bahasa Arab adalah jembatan menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang kemanusiaan Islam. Setiap kata di dalamnya mengandung lapisan makna yang kompleks — seperti kata rahmah yang tidak sekadar “kasih sayang,” tetapi juga “kelapangan hati dan empati sosial.” Maka, mempelajari Bahasa Arab berarti belajar memahami cara Islam memandang manusia.

                  Di era global sekarang, Bahasa Arab juga semakin penting sebagai bahasa komunikasi internasional. Dunia Arab menjadi poros kebudayaan dan ekonomi baru, dan banyak generasi muda Muslim yang ingin kembali terkoneksi dengan akar intelektualnya.

Belajar Bahasa Arab bukan hanya untuk membaca kitab kuning, tetapi untuk membaca kehidupan sekarang .

“Bahasa Arab bukan hanya bahasa surga, tetapi juga bahasa manusia yang hidup dalam sejarah.”

Problem Umum dalam Pembelajaran Bahasa Arab

                  Masalah terbesar dalam pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia adalah metode pengajaran yang terlalu berpusat pada rumus, bukan makna. Kita masih sering mempraktikkan pendekatan yang saya sebut “gramatikosentris”: belajar bahasa seolah hanya berarti menghafal struktur kalimat dan pola fi’il.

Buku ajar Bahasa Arab di banyak lembaga pendidikan lebih menonjolkan sisi teori ketimbang pengalaman. Guru menjadi pusat pengetahuan, sementara siswa hanya menjadi penyalin kaidah. Akibatnya, Bahasa Arab kehilangan konteksnya sebagai alat komunikasi dan budaya.

Banyak siswa bisa menjelaskan maf‘ul bih atau mudhaf-mudhaf ilaih, tetapi tidak bisa menulis surat sederhana atau memperkenalkan diri dalam Bahasa Arab. Mereka paham struktur, tapi tidak memahami jiwa bahasa.

Lebih jauh lagi, pendekatan yang terlalu kaku sering mengabaikan sisi psikologis siswa. Bahasa dipelajari dalam ketegangan, bukan dalam kegembiraan. Padahal, bahasa adalah makhluk hidup yang hanya bisa tumbuh dalam suasana yang hangat dan penuh rasa ingin tahu.

Pendekatan Humanis dalam Belajar Bahasa Arab

                  Teori belajar humanistik lebih menekankan kepada peserta didik untuk merasa senang dalam proses pembelajaran pada objek atau materi yang berhubungan dengan aspek kemanusiaan. Sehingga tujuan belajar menurut aliran humanistik adalah untuk memanusiakan manusia. Maka tugas pendidikan adalah menumbuhkan potensi itu dengan kasih, bukan paksaan.

  • Guru perlu melihat siswa bukan sebagai “wadah kosong” yang harus diisi, melainkan sebagai individu yang membawa pengalaman, latar budaya, dan motivasi unik.
  • Dalam konteks pembelajaran Bahasa Arab, pendekatan humanis bisa dilakukan melalui:
  • Mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari siswa. Misalnya, belajar kosakata melalui kegiatan rutin: makan, bermain, berdoa, atau berinteraksi sosial.
  • Menggunakan kisah dan narasi inspiratif dalam teks Bahasa Arab, bukan hanya kalimat contoh yang kering.
  • Menghidupkan suasana kelas yang dialogis, di mana siswa berani salah, bertanya, dan berekspresi tanpa takut.

“Belajar Bahasa Arab secara humanis artinya menghadirkan kemanusiaan ke dalam ruang kelas bahasa.”

                  Dengan cara ini, Bahasa Arab tidak lagi menjadi beban, tetapi menjadi cermin untuk mengenali diri. Setiap kata yang dipelajari bukan sekadar simbol, melainkan jendela untuk memahami nilai-nilai kemanusiaan: kesabaran, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan.

Pendekatan Kontekstual: Menghidupkan Bahasa dalam Realitas

                  Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah sebuah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

                  Kalau pendekatan humanis menekankan sisi batin, maka pendekatan kontekstual menekankan sisi realitas. Pendekatan ini berangkat dari pandangan bahwa bahasa tidak pernah lahir di ruang hampa. Bahasa hidup karena konteks sosial, budaya, dan zaman yang melingkupinya.

                  Dalam pembelajaran Bahasa Arab, pendekatan kontekstual berarti mengaitkan bahasa dengan situasi nyata. Misalnya, siswa tidak hanya belajar struktur fi‘il madhi atau mudhari‘, tapi juga menggunakannya untuk menceritakan kegiatan sehari-hari: “Akhruju min al-bayt sabahan” (Aku keluar dari rumah pagi-pagi).

                  Atau ketika membahas kosakata modern seperti “internet”, “media”, “lingkungan”, guru bisa menghadirkan teks atau video Arab kontemporer. Dengan begitu, siswa merasakan bahwa Bahasa Arab bukan bahasa masa lalu, tetapi bahasa yang hidup dalam dunia hari ini.

Pendekatan kontekstual juga membuka peluang untuk berpikir kritis. Misalnya, ketika membaca ayat tentang keadilan dalam Al-Qur’an, siswa diajak berdiskusi tentang keadilan sosial di masyarakat sekarang. Bahasa Arab menjadi medium refleksi, bukan sekadar hafalan.

                  Dalam teori contextual teaching and learning (CTL), siswa belajar paling efektif ketika mereka bisa mengaitkan pelajaran dengan pengalaman pribadi. Itulah sebabnya guru Bahasa Arab perlu kreatif menghadirkan konteks kehidupan dalam setiap pelajaran — baik lewat proyek mini, wawancara, atau simulasi percakapan yang hidup.

Menggabungkan Humanis dan Kontekstual: Paradigma Baru Pendidikan Bahasa Arab

                  Pendekatan humanis dan kontekstual tidak bisa dipisahkan. Keduanya seperti dua sayap yang membawa pembelajaran Bahasa Arab terbang lebih tinggi. Humanis memberi jiwa, kontekstual memberi arah. Humanis mengajarkan empati, kontekstual menumbuhkan relevansi.

                  Paradigma baru pendidikan Bahasa Arab seharusnya memadukan keduanya. Kita tidak lagi mengajarkan bahasa sekadar untuk meniru, tetapi untuk menjadi manusia yang sadar bahasa dan sadar makna.

                  Inilah yang saya sebut sebagai maqasid al-tarbiyah — tujuan pendidikan Islam yang sejati: menumbuhkan akal, hati, dan kepekaan sosial.

                  Seorang guru Bahasa Arab yang humanis-kontekstual tidak hanya mengajarkan kaidah, tapi juga hikmah. Ia mengajarkan bahwa setiap kata memiliki nilai moral, bahwa komunikasi adalah bagian dari ibadah, dan bahwa memahami orang lain adalah bentuk kasih sayang yang luhur.

                  Dengan paradigma ini, Bahasa Arab akan kembali menjadi jembatan antara ilmu dan kemanusiaan.

Bahasa Arab Menyatu dalam Kehidupan, Bukan Formalitas Pelajaran

                  Bahasa Arab bukan sekadar mata pelajaran yang dihafal di ruang kelas. Ia adalah bahasa kehidupan yang harus dihidupkan kembali dengan semangat kemanusiaan dan konteks zaman. Mengajarkan Bahasa Arab secara humanis dan kontekstual berarti menghadirkan ruh baru dalam dunia pendidikan Islam — bahwa belajar bahasa tidak boleh mematikan rasa ingin tahu, melainkan menumbuhkannya.

                  Kita membutuhkan generasi yang mencintai Bahasa Arab bukan karena kewajiban, tetapi karena maknanya. Mereka yang mempelajari bahasa ini bukan untuk mengejar nilai, tetapi untuk memahami nilai-nilai.

                  Akhirnya, kita akan menyadari bahwa Bahasa Arab tidak akan hidup hanya karena diajarkan, tetapi karena dihidupkan dalam kehidupan.

“Bahasa Arab akan hidup, jika kita mengajarkannya dengan kehidupan sehari-hari.”

Referensi:

  1. Pendekatan Humanistik Dalam Pembelajaran Bahasa Arab Perspektif K.H. Ahmad Dahlan.
  2. Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Humanistik. https://media.neliti.com/media/publications/505622-none-e8b76b95.pdf

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top